Monday, June 23, 2008

melebur dalam ketukannya


Indie menelpon dan mengajakku nonton pertunjukan jazz di Jogja Gallery.
Siaaaap, jawabku, bahkan tanpa tau siapa artisnya.
aku sih membayangkan mendengarkan lagu2 berirama jazz yang kukenal sambil minum kopi dan sedikit bergossip.
sampai di tempat, aku membaca nama-nama artisnya: trio steve hunter, herzog band, jogja collaborate band, nano tirta, idang rasjidi.
hmmm.. idang rasjidi mengingatkanku pada melodi jazz naik turun yang tidak bisa kumengerti. aku mulai was-was akan merasa kebosanan dalam pertunjukan itu. yah.. harus kuakui jazz instrumental buatku adalah 'terlalu memaksakan diri', karena menyerap banyak energi untuk memahaminya.
pertunjukan pun dimulai dengan herzog band, selama ada penyanyinya aku masih menikmati jazz. kemudian, jogja collaborate band, nano tirta, idang rasjidi. aku mulai terkikik-kikik berusaha memahaminya. ada satu musik idang rasjidi yang (katanya) bercerita tentang kehidupan sehari-hari pak tani dan bu tani, okay... aku tidak mengerti jalan ceritanya. satu-satunya hal yang membuat imajinasiku mengarah ke bayangan cerita itu adalah bunyi flute nano tirta yang bernuansa pedesaan.
well, pada umumnya pertunjukan jazz itu memang menarik, bagaimana para pemainnya mendapat kesempatan untuk secara individu menunjukkan kemampuannya secara bergantian. dan bagaimana mereka sangat menikmati bermain musik, itu yang tidak didapatkan dari jenis musik lain.
mungkin aku harus lebih sering mengapresiasi musik jazz ya agar lebih mudah menikmatinya..

5 comments:

Anonymous said...

aku suka judulnya:
"melebur dalam ketukannya ..."

btw, kalo nonton jazz pertimbangan utamaku adalah mencari tempat duduk di zona nyaman. biar bisa rileks, sante. klo perlu ada minuman yg sedikit beralkohol, bawa nyamikan.
sesudah itu aku hanya akan peduli pada bunyi itu, perasaan-perasaanku. bukan pikiranku.

hanya harry rusli [almarhum] yg berfikir bahwa menikmati jazz itu harus berfikir, bukan seno gumira [lihat jazz, parfum, dan pembunuhan]; atau jazz di minggu pagi [SGA].

tapi, namanya jazz, ia boleh dinikmati dgn cara apa saja, boleh sambil dipikirin boleh emang gue pikirin?

jadi,
hmmm...
"melebur dalam ketukannya"
--perampok yg sopan--

Koelit Ketjil said...

bagaimana bisa melebur jika harus difikirkan?
.... i think just enjoy the music...

Anonymous said...

buat mas perampok,
kelihatannya yang benar "jazz, parfum, dan insiden"

-robin hood-

bulb-mode said...

Malam itu, aku cuma bisa menikmati akhir dari rangkaian alunan jazz, dan separuh bakmi pele... :)

Koelit Ketjil said...

pak Sarjono juga suka jazz loh
apalagi kalo yang main tuh... anu.. sipa tuh.. aduhh...
oh ya!!

M A N T H O U S

marem tenan